Serendipity

After a while

it makes sense.

This life

is the poem

that I have always

wanted to write

and you

the story

I have always

wanted to tell.

Advertisements

So Madly Lost

They may say don’t

and muster enough courage to make sense of what they don’t

or ever won’t.

They may say stop

to what they think will only be a flop

without giving another glance

at what they only see on the top.

But don’t they understand–

Don’t you understand?

I feel right at home,

right where I belong,

in your arms,

beneath your scent,

underneath your lips–

lost,

so madly lost,

in you.

“And Then Being In Love”

It was a bright afternoon as we laid the picnic mat on the grass. The sun was out and you thought it would be a perfect afternoon to be out, and also to cure that writer’s block of mine.

It has been about three months of an endless writer’s block, the longest streak I have had in months. Long hours of chasing tight deadlines in my consulting day job has rid me of all the energy and mood to catch the end tails of inspirations like how I would normally start my writing process, all that’s left are patches after patches of scorching dryness, void of inspirations.

“You know, Lang Leav said that missing someone could be the best thing for a writer,” I said as we were sitting down. “And you know what I think she missed? I think falling in love might just be the most terrible thing that could happen to a writer. Aggravating, agonizing. I could go on and on. It’s terrible.”

“What, how come?” You gave me a curious look, like a little schoolboy confused at why he has to go to school on Monday morning, tilting your head sideways– almost too naive.

You leaned in to grab the can of cashew nuts we had just bought earlier. You opened it and offered the can to me so I could have some. I took one and continued on with the point I was making.

“Yeah, like, you can’t think of anything else but that person. It’s brutal, the death of all other facets of inspirations. Life suddenly becomes all about romance, all shades and layers of it, like you’re stuck with this rose-tinted glass in front of your eyes. And it’s not that you can’t try to think about anything else, it’s just that you would rather not. That’s what scares me, you know. Being a writer, and then being in love.”

You listen much too patiently while chewing on cashew nuts, much like how you munch on popcorn while watching your favourite movie. I take that cue to go on, “And perhaps it’s not just about romance, but it just becomes… love. Everything becomes about love. And then there’s that sense of control.”

“What about it?”

“You just lose it.”

And then you laughed, the kind of laugh that makes my stomach do multiple flips. In an instant, my heart races and my cheeks flush. If only you knew, this is what I am so afraid of. This, what you are doing to me.

“You know, for a writer, you are such a romantic,” you joked sarcastically, “and besides, don’t let that fear get in the way. You may be right that falling in love may just be the most terrible thing for a writer, but think about it, through its depth, you’ll dive into other dimensions that you otherwise will not even have the chance to know of. I think you’re only afraid of being dependent on that one person, but it doesn’t have to be. Just because someone brings you to a door does not mean that you have to rely on them to open the door and take you by the hand to explore, now does it?”

“Well, I guess not. But still, it screws up your brain somehow.” At this rate, I know I was just being impossible.

“Ally, the stubborn one. I understand, falling in love may not be a choice. Before you even realise it, when you’ve fallen, you’ve fallen. That’s a done deal, you don’t get to choose who, what, or when to love. But, you do get to choose what to do with it. I mean, even life from A to Z, in itself, is a choice. So, Ally, don’t let this falling-in-love crap dictate on whether or not you’ll be a kickass writer– because you are, be it in love or out of love, sad or happy, you name it.” You winked.

Choice, hey? Looks like I have made my choice today– or perhaps, in itself, I don’t have a choice.

I have fallen madly in love with you.

And in that moment, an inspiration came floating by– of something I still know not of yet, but something that feels like it comes with a promise.

“What’s that smirk you got on your face there?” You asked, curious, propping yourself up, eyes brimming with excitement.

“Well what do you know? I think I’m about to catch the end tail of what may be coming in a bit.”

Jakarta x Melbourne

“Aku rindu waktuku di Melbourne,” begitu gumamku malam ini saat mataku disuguhi slideshow foto-foto lamaku di Melbourne. Sampailah di satu foto dimana aku sedang duduk berpose di tengah taman di depan University of Melbourne. It was autumn, so the leaves were all on the ground, all yellow and orange of it. Lalu, ada yang menggelitik fokusku dengan foto itu – Langitnya, langit Melbourne, langit kesukaanku.

Macam rindu yang menggelitik ingin bertemu.

Melbourne.

Aku itu penggemar langit, dan kota Melbourne itu dibentangi langit yang paling indah. Baik siang, maupun malam. Kalau ia sedang biru, ia biru yang paling jernih. Kalau ia sedang ditutupi awan, aku tidak pernah menyaksikan kontras warna biru dan putih seindah langit Melbourne.

Lalu malam tiba. Jika kau adalah yang beruntung, yang tempat tinggalnya jauh dari keramaian pusat kota dan gedung-gedung tinggi menjulang, kau akan menyaksikan langit malam Melbourne yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Langit malam Melbourne itu seperti permainan drama, dengan hitamnya si langit sebagai panggungnya, si bulan sebagai pemeran utamanya, dan si bintang-bintang sebagai pemeran pendukung yang paling sempurna. Di saat bulan sedang tidak tampak, si bintang-bintanglah yang menjadi pemeran utamanya.

Dan, sungguh, kawan, waktu seakan berhenti. Hidup tiba-tiba menjadi indah. Paru-paru akhirnya bebas bernafas. Hati akhirnya bebas untuk merasakan.

Indah bukan main.

Lalu, Jakarta.

Sudah setahun lebih sedikit waktuku kembali di ibukota ini. Langit Melbourne sedikit demi sedikit sudah menjadi salah satu penghuni yang tersimpan rapih dalam long-term memory benakku– perannya sudah digantikan oleh rutinitas kota Jakarta yang menyita waktu 25/8.

Kala itu pukul 05:55 di sore hari, dalam perjalanan pulang dari klien. Sekitarku, di Jalan Sudirman, menyuguhi pemandangan tumpukan mobil mengantre (agak  tidak) tertib dengan lampu belakang warna merah yang melintas sejauh mata memandang. Terdengar bunyi klakson berbalaskan bunyi klakson, sesekali terdengar teriakan pengemudi yang naik darah karena tidak mengenal kata sabar; bahkan lagu favoritku yang sedang main di radio kalah volume. Penat, batinku membisik, penat bukan main.

Lalu, tanpa aba-aba dan agak terlalu otomatis, kepalaku mendongak – melihat ke langit yang dipamerkan kota Jakarta pada waktu sedikit setelah maghrib. Warnanya biru, walau agak pudar, namun tetap biru; tertutupkan lapisan awan putih abu-abu; sekejap mulai menggelap menyambut malam. Dan dalam detik itu, yang lain mengendap – dan yang tersisa hanya aku dan langit sore Jakarta.

Kuberanikan memejam mata; dan sekejap penat ini mengantarkanku ke malam itu.

Jalan Sudirman.

Aku ingat beberapa bulan sebelum akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Tanah Air. Pergumulan hebat kala itu diakhiri oleh satu gumam yang terucap kala aku sedang melihat jalan Sudirman dari kejauhan, tepatnya dari atas flyover Kuningan:

Aku jatuh cinta dengan jalan Sudirman.

Malam itu, kulihat gedung-gedung high rise yang menjadi bagian sakral dari jalan Sudirman. Kuperhatikan dengan seksama bagaimana gedung-gedung high rise itu berinteraksi dengan suasana jalanan, mobil-mobil yang lewat, pejalan kaki yang berhati-hati, bahkan dengan langit malam sekalipun – Semuanya melabur menjadi satu kesatuan dinamika yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya dapat dirasa;

satu kesatuan dinamika yang hanya dimiliki oleh kota Jakarta.

Akhirnya aku menelusuri jalan itu, menjadi bagian dari denyut nadi jalan panjang itu. Kupandangi setiap gedung kulewati, setiap lampu-lampu yang kutemui dari lampu jalan sampai lampu sepeda lewat yang nyala-mati. Kuresapi bagaimana Jakarta membuat seseorang merasa bahwa mereka adalah bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar dari mereka– sesuatu yang menarik masuk, dengan sebuah janji yang mendorong kamu untuk melakukan sesuatu– apapun. Itulah energi yang disuguhi Jakarta.

Dan di saat itu, kedamaian angkat bicara dan aku membulatkan niat untuk kembali . . . dan meninggalkan langit Melbourne.

Kembali ke sekarang.

Kulihat-lihat lagi langit Melbourne yang menyapa dari foto-foto lama. Kuingat-ingat lagi perjalanan menelusuri jalan Sudirman di malam dimana aku memutuskan untuk meninggalkan Melbourne, kecintaanku, disana. Kuingat-ingat lagi bermacet-macetan di keramaian Jakarta dengan orkestra klakson mobil yang jauh dari unisono. Kumainkan lagi perasaan bebas yang berdetak bersama setiap langkah kaki dalam waktuku di Melbourne.

Akhirnya hati menyuarakan damai, damai menyuarakan logika, dan logika melengkungkan senyum. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk; semuanya adalah bagian dari bab-bab berbeda dalam satu buku yang sama. Semuanya menguntai menjadi sebuah cerita, yang tak bisa terlepas satu dari yang lain.

Perasaanku sekarang?

Seperti Jakarta yang merindukan Melbourne,

semacam rindu yang akhirnya bertemu dengan damai, namun tetap merindu.

The Butterfly Effect

Kamu.

Di dalam duniamu yang berisikan tanda tanya dan pijakan tanah yang kerap bergoyang, bergelombang. Dipertemukan dengan kepastian yang tidak pasti, yang baru saja bertatap muka lagi dengan rasa itu yang datang dari jatuh ke dalam hati yang tidak mau menangkapmu. Bukan ceroboh, tapi memang begitu kenyataan pahitnya– ia tidak menginginkanmu.

Berapa banyak tanda tanya yang kamu sedang coba jawab? Atau berapa banyak goresan tanda seru yang kamu sedang coba hadang?

Datanglah suatu pemikiran, sedikit abstrak, yang memaksa untuk berdiam sejenak di tengah-tengah pikiranmu yang teracak. Katanya: 

Kamu itu seorang diri, sendirian; kamu si silo.

Lalu… kacau.

Kawan, pernah dengar konsep “The Butterfly Effect“?

Aku baru saja berkenalan dengan konsep ini, dan momen itu ibarat fascination-at-first-hear bertemu serendipity. Terlalu suka dan tidak sabar untuk mendalami lebih jauh.

Singkatnya, The Butterfly Effect adalah konsep yang menjelaskan bahwa suatu kejadian adalah efek dari kejadian-kejadian sebelumnya. Anggap saja alam semesta ini terdiri dari modular-modular yang berinterkoneksi satu sama lain; semuanya tersambung ke yang lain, tidak ada yang sendiri, bahkan yang paling ujung sekalipun. Apapun yang terjadi di dalam satu modular akan memberikan dampak ke modular yang lain – dan memang (akan) selalu begitu hukumnya.

Masuk ke dalam duniaku, dunia HR.

Di dalam dunia HR, ada konsep yang bernama silo; artinya kerja sendiri, terisolasi dari yang lain. Konsep silo ini biasanya menjadi musuh semua orang, semacam kerikil kecil yang berhasil masuk ke dalam mesin Bugatti Veyron Super Sport; si kecil yang adalah perusak segala kestabilan, si kecil yang selalu sendirian. Dan setelah berkecimpung di dalam dunia HR dan mulai bersahabat dengan lekak-lekuknya dunia itu, yang dapat kusimpulkan dengan pasti adalah proses HR tidak mengenal si silo yang menyebalkan itu.

Di dalam proses HR, semua fungsi dan proses berjalan secara terinterkoneksi dan terhubung satu sama lain. Bolehlah kita sebut sebagai suatu ekosistem. Hal semudah Organization Structure akan menentukan job description dari setiap fungsi yang akan dibagi lagi menjadi per level; dan dari situ ia juga yang menentukan competency profiling per fungsi, per divisi, dan per level. Selebih itu, ia juga yang membantu menentukan arahan career path – dan dari career path itu, ia juga akan menentukan development plan per individu. Semuanya berfungsi sebagai satu kesatuan, semacam ekosistem, yang seolah menjunjung tinggi nilai gotong-royong.

Semuanya berinteraksi, berkesinambungan, tidak ada yang sendiri-sendiri.

(Intermezzo: Bahkan mungkin, dunia HR ini jauh lebih mendekati utopia daripada situasi di Indonesia saat ini; yang lebih kenal konsep pecah-belah dibandingkan menjadi sebuah ekosistem. Suatu gambaran situasi menyedihkan yang melampaui pilu, hampir ngilu, terlalu malu. Politik? Mungkin maksudnya tahi itik.)

Kembali kepada The Butterfly Effect.

Satu kejadian itu mempunyai kuasa yang sangat besar; ia menjadi penentu untuk melahirkan atau menghilangkan kejadian berikutnya. Tidak ada satu pun kejadian yang tidak memberi dampak kepada kejadian selanjutnya. Semuanya adalah modular yang tersambung di dalam suatu ekosistem yang dinamis, dengan hukumnya yang mutlak dan kritis.

Tidak ada konsep seorang diri, tidak ada yang namanya konsep sendirian.

… Begitu juga kamu.

Si abstrak mengatakan kamu si silo yang sendirian, mengusik dengan mengatakan kamu tidak menarik. Duniamu runtuh, hatimu ngilu, bahkan tempat berpijak pun tidak ketemu. Hanya karena dia yang tidak menginginkanmu.

Kamu tahu? Hanya karena kamu tidak bisa melihat sekarang melalui airmata dan hati yang terpecah belah, bukan berarti si abstrak benar. Karena apa?

Karena lalu… kamu bertemu The Butterfly Effect– 

dan si abstrak, dengan persuasi bodohnya itu, sudah tidak kuasa membohongimu lagi.

Selamat datang kembali, kawan – Sudah siapkah menemukan pijakanmu kembali?

Potret Jakarta, 2017

Sedikit cuplikan Jakarta di tahun 2017, bukan 1989 –

Saya bukan seorang yang mengikuti naik turunnya, keluar masuknya, dunia politik. Toh buat apa. Bahkan tadinya pun saya tidak mau mengikuti cerita Ahok, tapi mungkin kali ini agak susah. Karena akhirnya, setelah sekian lama, Indonesia– Jakarta– berkenalan dengan seorang figur yang sungguh rela, mau, dan berani untuk memperkenalkan kata perubahan; dan terlebih lagi, rela, mau, dan berani untuk melakukan perubahan. Nggak usah muluk-muluk dengan omong kosong, tapi lihatlah hasil-hasil yang sudah berhasil dibuat. Sudah, itu saja tolok ukurnya. (Dan jika masih ada yang bilang tidak ada, maaf, mungkin ada baiknya Anda mengecek gejala schizophrenia.)


Keputusan Majelis Hakim untuk akhirnya memenjarakan Ahok 2 tahun sudah dibuat– atas landasan apa, ya saya dan teman saya yang lawyer pun juga masih berdebat. Maksudnya, nggak jelas. Tapi ya sudah, kita terima saja. Apa lagi kah yang bisa kami perbuat? Ya sudah lah.


Indonesia, kesayangan, apa yang sedang terjadi? Nilai-nilai apa yang sedang dijunjung, nilai-nilai apa yang harus kami, kaum muda, ajarkan anak-anak kami kelak? Bahwa kesuksesan hanya berpusat kepada apakah kamu kaum minoritas atau mayoritas, dimana bahkan hukum pun jadi arena permainan? Apakah begitu?


Sulit untuk hati dari setiap kami untuk tidak ikut sakit mengikuti alur cerita ini. Karena itu tadi, ini adalah cerminan dari situasi di Indonesia saat ini; Ahok hanyalah sebagian kecil yang kelihatan (the tip of the iceberg). Dan ketika cerminan itu sebegitu penuh distorsi, dimana lagi kah kami harus memijakkan kaki kami?


Ahok, sing kuat yo. Kalau kata mantra saya setiap saya jatuh, “this too shall pass.” In this case, I too hope that something even better will come out of this— kalau tidak, ya hmm.. mungkin agak terlalu sayang pengorbanan.


Saya mah nggak salam satu, dua, atau sepuluh jari, saya mah salam Persatuan Indonesia aja ya.