Perihal Rindu

Kamu tertawa, “Kangen? Kan sudah ketemu setiap hari.”

Disitu aku akhirnya tahu, bahwa rindu bukan perihal rasa yang hanya muncul disaat kita bertatapan dengan jarak, melainkan perihal rasa yang kerap muncul setiap kali kamu muncul di dalam benak.

Seperti halnya menyandu, tidak ada sudahnya mau.

Tidak pernah berhenti, selalu ada dan ada lagi.

Advertisements

Teruntuk Kita

Teruntuk kita

Selalu ada,

Semua punya segala

Tanpa ada tiada,

Semua yang disentuh rasa

Semua yang dimanja kata-kata.

 

Mohon berikan maaf untuk satu sajak singkat jauh dari arti sempurna

Yang bergantung pada gaung rima dan pengulangan kosa kata,

 

Izinkan ia untuk memberikan hidup pada paripurna sebuah senyuman

Sayangnya sebuah dekapan

Dan hangatnya suatu perasaan;

 

Seperti halnya hening yang dirasa

Di saat malam menemukan tenang, sesaat seusai senja.

 

 

“Ah–

bolehkah saya terus menghuni bilik waktu yang ini saja?”

Terjebak

Di dalam pengap harap

bualan anganan

yang tak tentu setuju

atau keliru

setiap hati ini bersinggah

di atas kenangan akan kamu,

dan kita

yang selalu menolak

untuk berkata sudah

baik sekarang atau

nanti kelak;

Dalam sajak

yang bertemu dengan jarak

enggan untuk melepaskan pijak

dari yang sudah berjejak;

terjebak.

An Old Flashback

Words turned to knives,

and then it killed.

The words that we usually use to love, to embrace, to kiss– we now use to pierce, to stab, to hurt.

It was blood upon blood, tears upon heavy hearts, cracked open, swollen and unrescued.

It was the most gruesome of all forms of murder.

That night when words shredded me into pieces.

What changed?

Take me back to the beginning.

Our “I love you”s screaming in this dead air between us, muffled, unable to sound.

What’s the prize to be won in the arena here?

How big is the prize that could convince us to tiptoe over these shaky maybes

and turn us into savage beasts dying over a duel

just over who gets to have the last say?

Take me back to the beginning.

Take me back to you.

But, no.

Enough,

is enough.

Yang Biasa Dilupa

Semuanya itu, dalam hidup, harus disyukuri.

Mau yang lagi susah berlalu maju

dari cerita masa lalu;

mau yang sedang jatuh cinta

dengan yang berbeda;

mau yang sedang menjelajahi pilihan

kesini dan kesana;

Semua itu harus disyukuri.

Karena semua itu ada waktunya;

mau terkadang waktu itu sejenak,

tersentak, ataupun terhentak;

atau ya mau waktu itu lama.

Jadi berbahagialah kita yang masih dapat merasakan,

menyaksikan,

dan menjalankan.

Di depan mau ada urusan apa,

cerita apa dan akhir apa,

ah sudahlah, beranilah menutup mata.

Toh hanya yang Maha Kuasa

yang punya rencana,

tanpa kita yang harus memberi aba-aba.

Secret

You know, people often keep private or hidden from people’s eyes the things that are special or matter the most to them. Like, let’s say, a pearl in an oyster. I mean, how often do you see an oyster flailing about in flares, showing off? A pearl is kept well hidden.

For a while, we became our little secret– just you and me. It’s almost as if we are just reluctant to share each other,

to anybody, anything.

We became each other’s obsession, sweet possession,

in a way we just want to enjoy ourselves

for ourselves

to ourselves.

So we kept us hidden– just you and me,

the two of us.

And you, my dear, become this sweet little secret I carry with me everyday.

“It’s not us against the world, you know,” I said, “I’m beyond the point of caring what the world has to say anyway.

This– me– just wants to be with you.”