Tawar-Menawar

Kamu tahu? Dunia ini bukan untuk tawar-menawar, katanya. Tidak ada ruang untuk yang tidak pasti, seperti macamnya hitam akan selalu menjadi hitam dan putih tidak akan pernah berhenti menjadi putih. Semuanya sudah ada hukumnya;

tepat, exact, persis, tidak ada pengecualian.

Baik, gumamku diam sambil berpikir. Aku tidak akan berargumen dengan itu, mungkin untuk sekali ini saja aku menjadi anak penurut dan pura-pura untuk percaya.

Kutatap matamu itu, lalu kupejamkan mataku lagi.

Rasa itu, yang kukenal sangat dekat, telah masuk ke dalam sukma diri yang paling dalam, berputar-putar bebas di dalam sudut hati yang tidak semua orang dapat lihat jika hanya sekejap. Rasa itu, yang sudah melekat, selalu timbul saat sosokmu muncul dalam ruang lingkup penglihatanku.

Bolehkah aku memelukmu sedikit lebih lama lagi?

Bolehkah tangan ini mengenalmu lebih lama lagi?

Sebentar lagi saja, sedikit lagi. 

Ya, dunia ini mungkin bukan untuk tawar-menawar;

Tapi oh bila saja kamu tahu, betapa banyak hari yang aku habiskan untuk menawar waktu — sedikit lagi, tolong satu lagi, satu lagi saja— agar aku dapat tetap bersamamu sedikit saja lebih lama.

Dan seterusnya, seterusnya, seterusnya, seterusnya, begitu.

Sedikit saja lebih lama.

Hingga akhirnya tidak ada lagi yang perlu ditawar.

Bisakah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s