Jakarta x Melbourne

“Aku rindu waktuku di Melbourne,” begitu gumamku malam ini saat mataku disuguhi slideshow foto-foto lamaku di Melbourne. Sampailah di satu foto dimana aku sedang duduk berpose di tengah taman di depan University of Melbourne. It was autumn, so the leaves were all on the ground, all yellow and orange of it. Lalu, ada yang menggelitik fokusku dengan foto itu – Langitnya, langit Melbourne, langit kesukaanku.

Macam rindu yang menggelitik ingin bertemu.

Melbourne.

Aku itu penggemar langit, dan kota Melbourne itu dibentangi langit yang paling indah. Baik siang, maupun malam. Kalau ia sedang biru, ia biru yang paling jernih. Kalau ia sedang ditutupi awan, aku tidak pernah menyaksikan kontras warna biru dan putih seindah langit Melbourne.

Lalu malam tiba. Jika kau adalah yang beruntung, yang tempat tinggalnya jauh dari keramaian pusat kota dan gedung-gedung tinggi menjulang, kau akan menyaksikan langit malam Melbourne yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Langit malam Melbourne itu seperti permainan drama, dengan hitamnya si langit sebagai panggungnya, si bulan sebagai pemeran utamanya, dan si bintang-bintang sebagai pemeran pendukung yang paling sempurna. Di saat bulan sedang tidak tampak, si bintang-bintanglah yang menjadi pemeran utamanya.

Dan, sungguh, kawan, waktu seakan berhenti. Hidup tiba-tiba menjadi indah. Paru-paru akhirnya bebas bernafas. Hati akhirnya bebas untuk merasakan.

Indah bukan main.

Lalu, Jakarta.

Sudah setahun lebih sedikit waktuku kembali di ibukota ini. Langit Melbourne sedikit demi sedikit sudah menjadi salah satu penghuni yang tersimpan rapih dalam long-term memory benakku– perannya sudah digantikan oleh rutinitas kota Jakarta yang menyita waktu 25/8.

Kala itu pukul 05:55 di sore hari, dalam perjalanan pulang dari klien. Sekitarku, di Jalan Sudirman, menyuguhi pemandangan tumpukan mobil mengantre (agak  tidak) tertib dengan lampu belakang warna merah yang melintas sejauh mata memandang. Terdengar bunyi klakson berbalaskan bunyi klakson, sesekali terdengar teriakan pengemudi yang naik darah karena tidak mengenal kata sabar; bahkan lagu favoritku yang sedang main di radio kalah volume. Penat, batinku membisik, penat bukan main.

Lalu, tanpa aba-aba dan agak terlalu otomatis, kepalaku mendongak – melihat ke langit yang dipamerkan kota Jakarta pada waktu sedikit setelah maghrib. Warnanya biru, walau agak pudar, namun tetap biru; tertutupkan lapisan awan putih abu-abu; sekejap mulai menggelap menyambut malam. Dan dalam detik itu, yang lain mengendap – dan yang tersisa hanya aku dan langit sore Jakarta.

Kuberanikan memejam mata; dan sekejap penat ini mengantarkanku ke malam itu.

Jalan Sudirman.

Aku ingat beberapa bulan sebelum akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke Tanah Air. Pergumulan hebat kala itu diakhiri oleh satu gumam yang terucap kala aku sedang melihat jalan Sudirman dari kejauhan, tepatnya dari atas flyover Kuningan:

Aku jatuh cinta dengan jalan Sudirman.

Malam itu, kulihat gedung-gedung high rise yang menjadi bagian sakral dari jalan Sudirman. Kuperhatikan dengan seksama bagaimana gedung-gedung high rise itu berinteraksi dengan suasana jalanan, mobil-mobil yang lewat, pejalan kaki yang berhati-hati, bahkan dengan langit malam sekalipun – Semuanya melabur menjadi satu kesatuan dinamika yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya dapat dirasa;

satu kesatuan dinamika yang hanya dimiliki oleh kota Jakarta.

Akhirnya aku menelusuri jalan itu, menjadi bagian dari denyut nadi jalan panjang itu. Kupandangi setiap gedung kulewati, setiap lampu-lampu yang kutemui dari lampu jalan sampai lampu sepeda lewat yang nyala-mati. Kuresapi bagaimana Jakarta membuat seseorang merasa bahwa mereka adalah bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih besar dari mereka– sesuatu yang menarik masuk, dengan sebuah janji yang mendorong kamu untuk melakukan sesuatu– apapun. Itulah energi yang disuguhi Jakarta.

Dan di saat itu, kedamaian angkat bicara dan aku membulatkan niat untuk kembali . . . dan meninggalkan langit Melbourne.

Kembali ke sekarang.

Kulihat-lihat lagi langit Melbourne yang menyapa dari foto-foto lama. Kuingat-ingat lagi perjalanan menelusuri jalan Sudirman di malam dimana aku memutuskan untuk meninggalkan Melbourne, kecintaanku, disana. Kuingat-ingat lagi bermacet-macetan di keramaian Jakarta dengan orkestra klakson mobil yang jauh dari unisono. Kumainkan lagi perasaan bebas yang berdetak bersama setiap langkah kaki dalam waktuku di Melbourne.

Akhirnya hati menyuarakan damai, damai menyuarakan logika, dan logika melengkungkan senyum. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk; semuanya adalah bagian dari bab-bab berbeda dalam satu buku yang sama. Semuanya menguntai menjadi sebuah cerita, yang tak bisa terlepas satu dari yang lain.

Perasaanku sekarang?

Seperti Jakarta yang merindukan Melbourne,

semacam rindu yang akhirnya bertemu dengan damai, namun tetap merindu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s