Kembali ke Awal

Sudah lama aku tidak menulis. Waktu itu layaknya pesawat jet yang selalu terbang terlalu cepat. Porsi 24 jam dalam sehari itu serasa tidak cukup sama sekali, selalu saja ada yang kurang atau terlambat. Hasilnya adalah berlarian kesana kemari untuk mencapai serangkaian ini-dan-itu yang berbeda; untuk berhenti sejenak dan menulis saja merupakan sesuatu yang sangat mahal.

***

Aku memang sering mengatakan bahwa aku tidak sabar untuk cepat-cepat meninggalkan negeri kanguru Australia tempat aku menimba ilmu itu. Entah itu karena bosan, entah itu karena penat, aku tidak tahu. Pokoknya aku tidak sabar untuk meninggalkan kota Melbourne yang dulu pernah menjadi kesayanganku itu.

Tidak ada yang salah dengan kota itu, hanya saja lima tahun tinggal disana mungkin sudah memeras semua semangat dan keingintahuanku. Bahkan, untuk kurun waktu yang tidak sebentar, kota itu pernah terasa seperti rumah untukku. Tapi toh, mungkin memang rumahku berada di tempat lain. Kota itu hanya tempat untuk bersinggah sementara sampai akhirnya aku akan pulang.

Dan mungkin itulah yang sedang kualami – detik-detik awal dimana bukti-bukti terus bermunculan bahwa aku memang bukan ditakdirkan untuk disana.

Ironisnya, di saat menuju akhir seperti ini, aku justru lebih suka melihat ke belakang, memainkan bab yang akan bertemu halaman terakhirnya sebentar lagi, kembali ke awal. Dan anehnya, justru disitu aku menemukan damai.

Menguntailah si senyum seperti mempunyai haknya sendiri seraya serangkaian kenangan bermain di kepalaku.

Aku itu penggemar langit, dan kota Melbourne itu dibentangi langit yang paling indah. Baik siang, maupun malam. Kalau ia sedang biru, ia biru yang paling jernih. Kalau ia sedang ditutupi awan, aku tidak pernah menyaksikan kontras warna biru dan putih seindah langit Melbourne.

Lalu malam tiba. Jika kau adalah yang beruntung, yang tempat tinggalnya jauh dari keramaian pusat kota dan gedung-gedung tinggi menjulang, kau akan menyaksikan langit malam Melbourne yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Langit malam Melbourne itu seperti permainan drama, dengan hitamnya si langit sebagai panggungnya, si bulan sebagai pemeran utamanya, dan si bintang-bintang sebagai pemeran pendukung yang paling sempurna. Di saat bulan sedang tidak tampak, si bintang-bintanglah yang menjadi pemeran utamanya.

Dan, sungguh, kawan, waktu seakan berhenti. Hidup tiba-tiba menjadi indah. Paru-paru akhirnya bebas bernafas. Hati akhirnya bebas untuk merasakan.

Indah bukan main.

Aku juga suka menghilang. Terkadang aku suka sengaja mematikan ponselku dan membebaskan kakiku untuk mengajakku pergi ke tempat-tempat tersembunyi. Kota Melbourne itu dikenal dengan banyaknya laneways, atau gang-gang kecil dimana banyak cafe-cafe atau tempat-tempat unik bersembunyi. While you are discovering them, you are discovering yourself.

Menghilang itu perlu sesekali. Toh, kita harus hilang dulu untuk kembali ditemukan, bukan? Sungguh, aku akan rindu kebebasanku untuk menghilang.

Kembali ke awal. Beginilah hidup, di saat kita tahu kita sudah mendekati akhir, kita akan melihat ke belakang. Untuk kembali ke awal.

Dan waktuku di kota Melbourne akan habis dalam kurun waktu 5 bulan. Sungguh aku akan rindu semuanya, walaupun mulutku terus menerus mengatakan bahwa aku tidak sabar untuk meninggalkannya.

Seperti yang sudah kukatakan, toh dulu ia pernah menjadi rumahku. Walau hanya untuk menjadi tempat singgah sementara, namun rumah tetap rumah, bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s