Homeostasis

Kawan, pernah dengar kata homeostasis?

Homeostasis adalah nama yang diberikan pada suatu kondisi keseimbangan internal yang ideal, dimana semua sistem tubuh bekerja dan berinteraksi dalam cara yang tepat untuk memenuhi semua kebutuhan dari tubuh.

Aku pertama kali dikenalkan dengan konsep ini saat aku masih duduk di bangku SMA, di pelajaran biologi, sambil diam-diam mengunyah permen karet. Lalu, aku dihadapkan lagi dengan konsep ini di bangku kuliah, tahun pertama semester kedua, di suatu pelajaran fisiologi dasar.

Aku suka sekali konsep ini.

Ia menjelaskan bahwa di dalam tubuh kita itu ada equilibrium, dimana tubuh kita akan dengan sendirinya berusaha dan bekerja agar equilibrium internal ini selalu tercapai. Contoh, kalau kita sedang kepanasan sehabis olahraga, tubuh kita akan dengan otomatis merenggangkan pembuluh darah kita agar lebih banyak energi panas yang bisa meluap. Begitu juga sebaliknya, kalau tubuh kita sedang kedinginan, tubuh kita akan otomatis menegangkan dan mengecilkan pembuluh darah kita agar tidak banyak energi panas yang, istilahnya, kabur.

Itu hanyalah gambaran sederhana saja. Tentu masih banyak proses-proses yang jauh lebih rumit daripada yang kuutarakan di atas, namun itulah pengertian dasar konsep hebat ini.

Aku suka sekali konsep ini.

Karena, yang aku tangkap dari seluruh penjelasan biologis dan ilmiah tentang homeostasis, adalah betapa kuatnya tubuh kita itu.

Ralat, betapa kuatnya kita itu.

Aku bertemu konsep ini lagi dua yang hari lalu, di saat aku terbaring di ranjang dengan kaki yang biru lebam dan bengkak, akibat jatuh di tangga malam sebelumnya. Sudah dua hari aku terkapar seperti ini, kaki tidak sanggup menyentuh tanah, pergerakannya sangat minim. Sakitnya luar biasa.

Aku memutuskan untuk tidak pergi ke dokter ataupun tukang pijat. Pertama, karena aku yakin ini hanya terkilir biasa, bukan sesuatu yang parah seperti patah atau retak tulang. Kedua, karena kata banyak orang, ankle sprain itu suka semakin parah apabila dipijat. Jadilah aku memutuskan untuk mengikuti RICE treatment ala atlit-atlit sepakbola saja – Rest, Ice, Compression, Elevation.

Tidak rumit-rumit, tidak bertele-tele. Hanya banyak berbaring, rajin mengompres dengan es, dan meninggikan kaki yang cedera. Usaha minim, menurutku.

Pagi ini aku terbangun dan mulai mencoba menggerakkan kakiku lagi. Kaget bercampur senang, aku sudah mulai bisa menggerakkannya pelan-pelan dan sakitnya sudah tidak separah hari-hari sebelumnya! Si kaki pelan-pelan sudah aku pertemukan lagi dengan si tanah. Walaupun masih jauh dari jalan sempurna, setidaknya si kaki sudah bisa bergerak sedikit lebih banyak.

Hal ini mengingatkanku pada konsep kesukaanku itu. Tentu cerita barusan ini bukan contoh akurat dari homeostasis, tapi cerita barusan mengemban konsep sederhana dari homeostasis. Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa, tapi kakiku dengan sendirinya membenarkan dirinya sendiri, seolah itulah yang memang harus ia lakukan. Dan betul adanya, karena menurut homeostasis, memang tujuan tubuh kita adalah membenarkan yang salah, memperbaiki yang sakit, dan melindungi yang benar. Agar equilibrium selalu terjaga. Hebat sekali, bukan.

Begitu pula dengan hidup, teman.

Pernahkah kalian merasakan sakit hati? Yang mendalam, yang menyayat, yang mengiris? Yang membuat kita hilang dalam tangis yang meraung-raung atau hening yang mencekik, yang membuat dunia yang kita ketahui seolah roboh menjadi puing puing di tanah? Sampai “aku tidak kuat” melambung berkali-kali, memecah semua esensi ruang dan waktu.

Kawan, percayalah, kalau tubuh kita dapat memperbaiki dirinya sendiri, kita pun juga bisa menyembuhkan diri kita sendiri. Karena sudah hukum alam kita harus menjaga equilibrium kita.

Kesedihan yang mendalam itu bukan equilibrium, kawan. Maka tubuhmu akan sendirinya mencari cara agar kamu bisa bangkit dan tertawa lagi seperti sedia kala. Masalahnya ada pada hatimu yang masih biru lebam dan ketidaksabaranmu yang membengkak.

Sabar, kawan. Beri ia waktu, ia sungguh hanya butuh waktu. Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Beristirahatlah. Rasakan semua sakitnya, toh sakit itu ada untuk dirasakan, bukan untuk ditangkis. Berikan tubuhmu waktu untuk kembali normal. Berikan waktu agar biru lebammu sembuh. Berikan dirimu waktu untuk berdiri, berlari, melompat, dan menari lagi.

Percaya akan konsep homeostasis, kawan. Bahwa tubuhmu itu memang sudah ditugaskan untuk menjagamu.

Bahwa tubuhmu itu kuat.

Bahwa dirimu itu kuat.

Advertisements

One thought on “Homeostasis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s