Sahabat Akrabku, Bandara

Aku sudah bersahabat akrab dengan bandara.

Dimulai dari proses check-in yang menyita waktu lama, dilanjut dengan security check, lalu antrean imigrasi yang kerap menyita waktu lebih lama lagi.

Aku sudah hafal tahap-tahapnya di luar kepala. Kan sudah aku bilang tadi, aku sudah bersahabat akrab dengan bandara.

Bunyi orkestra suara gerekan koper, langkah kaki yang terburu-buru, dan suara dengungan pesawat siap tinggal landas. Mereka telah menjadi musik terlalu familiar bagiku.

Orang-orang berpelukan, sesekali menahan tangis dan baru meledakannya di saat yang terkasih sudah hilang dari depan mata, atau pasangan muda yang baru akan dihadapkan dengan jarak dan tidak kuasa melepas dekapan. Semuanya pemandangan biasa buatku.

Aku sudah hafal dengan suasananya. Kan sudah aku bilang, aku sudah bersahabat akrab dengan bandara.

Macet dalam perjalanan ke bandara. Genggaman tangan yang tidak rela dilepas, sesekali terdengar bisikan “aku akan merindukanmu” dengan mata yang tetap fokus menerjang kemacetan.

Sampai di parkiran bandara, langsung bergegas mengambil trolley. Mendorong trolley ke arah pintu masuk, sesekali menoleh ke arahku yang berjalan di sampingmu. Aku menoleh balik, dan bibirmu tersenyum di kala matamu sayu.

Aku sudah hafal gerak-gerikmu. Kan sudah aku bilang tadi, aku sudah bersahabat akrab dengan bandara.

Sesudah aku keluar lagi untuk menemuimu sebelum aku harus masuk, terduduk memandangi pemandangan yang disuguhi bandara pada pukul sembilanan. Boarding pass menyatakan boarding pukul sepuluh, tinggal satu jam lagi kita duduk bersebelahan.

Kusenderkan kepalaku di pundakmu, tak sanggup aku melihatmu, takut akan keinginanku yang makin menggebu untuk mengajakmu kabur dari bandara ini sekarang juga. Kau senderkan kepalamu diatas kepalaku, tanganmu melingkar di pinggangku. “Aku akan merindukanmu” berbisik berulang kali.

Pukul sembilan empat lima, saatnya aku bangkit berdiri menuju gerbang keberangkatan. Aku berhadapan dengan matamu yang seolah mengatakan “jangan pergi,” dan kamu berhadapan dengan hatiku yang berbisik kesakitan, tidak tega masuk dan meninggalkan wajah itu.

Bibir kita bertemu dan berpisah terlalu cepat. Sebelum aku benar-benar hilang dari pandanganmu, aku menoleh ke belakang. Sepasang mata memerah menyambutku dari sisi dibalik pintu kaca. Lambaian tangan berbalas lambaian tangan, dan aku menghilang cepat.

Agar kamu tidak melihat betapa hancurnya aku setiap aku melangkah pergi. Walau untuk kembali, tapi tetap aku pergi.

Aku sungguh hafal semuanya.

Namun, ada satu yang aku tidak akan pernah hafal. Mau seakrab apapun, aku benar-benar tidak akan pernah hafal. Sebuah pengkhianatan yang kurang ajar.

Yaitu, betapa remuknya melihatmu menyaksikan kepergianku, betapa ngilunya meninggalkanmu di bandara,

dan bagaimana aku harus selalu mati-matian melawan setiap inci ragaku

yang meraung-raung tidak kuat pisah lagi darimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s